Selasa, 14 Agustus 2012

Ziarah ke Makam Wali Sunan Drajat


Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.


Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.

Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam beliau menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi

Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat Jalan Daendels (Anyar-Panarukan), namun bila lewat Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan kendaraan pribadi.


Sejarah singkat

Sunan Drajat bernama kecil Raden Syari*fuddin atau Raden Qosim putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau me*ngambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan XVI Masehi. Ia memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun.

Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperha*tikan nasib kaum fakir miskin. Ia terle*bih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.

Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yang mempu*nyai otonomi.

Sebagai penghargaan atas keberha*silannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.
Filosofi Sunan Drajat

Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari tataran komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :

Memangun resep tyasing Sasoma (kita selalu membuat senang hati orang lain)

Jroning suka kudu éling lan waspada (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)

Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)

Mèpèr Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)

Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan mem*peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).

Mulya guna Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)

Mènèhana teken marang wong kang wuta, Mènèhana mangan marang wong kang luwé, Mènèhana busana marang wong kang wuda, Mènèhana ngiyup marang wong kang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya*rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)

(Dari Wikipedia bahasa Indonesia)

--------------------------------------------

Biografi SUnan Drajat

Semasa muda ia dikenal sebagai Raden Qasim, Qosim, atawa Kasim. Masih banyak nama lain yang disandangnya di berbagai naskah kuno. Misalnya Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat. Dia adalah putra Sunan Ampel dari perkimpoian dengan Nyi Ageng Manila, alias Dewi Condrowati. Empat putra Sunan Ampel lainnya adalah Sunan Bonang, Siti Muntosiyah, yang dinikahi Sunan Giri, Nyi Ageng Maloka, yang diperistri Raden Patah, dan seorang putri yang disunting Sunan Kalijaga. Akan halnya Sunan Drajat sendiri, tak banyak naskah yang mengungkapkan jejaknya.


Ada diceritakan, Raden Qasim menghabiskan masa kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita, yang kelak berkembang menjadi legenda.

Syahdan, berlayarlah Raden Qasim dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai, dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qasim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong ikan cucut dan ikan talang –ada juga yang menyebut ikan cakalang.

Dengan menunggang kedua ikan itu, Raden Qasim berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, persitiwa ini terjadi pada sekitar 1485 Masehi. Di sana, Raden Qasim disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.

Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk.

Jelak, yang semula cuma dusun kecil dan terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qasim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat itu dinamai Desa Drajat.

Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap tempat itu belum strategis sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan berupa hutan belantara itu dikenal penduduk sebagai daerah angker.

Menurut sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan lahan itu. Mereka meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit. Namun, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasi. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektare.

Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur. Sunan mendirikan masjid agak jauh di barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk.

Sunan menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, hingga wafat pada 1522. Di tempat itu kini dibangun sebuah museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat –termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.

Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” demikian petuahnya. Maksudnya: jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.

Sunan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan
cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Selanjutnya, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.

Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.

Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang, konon, merajalela selama dan setelah pembukaan hutan. Usai salat asar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir, mengingatkan penduduk untuk melaksanakan salat magrib.

”Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,” katanya dengan nada membujuk. Ia selalu menelateni warga yang sakit, dengan mengobatinya menggunakan ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.

Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga.

Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada 1465 Masehi. Menurut Babad Tjerbon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum sampai di Lamongan, Raden Qasim sempat dikirim ayahnya berguru mengaji kepada Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel.

Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan hingga kini, memang ada tradisi ‘’saling memuridkan”. Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah, Raden Qasim tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga yang menyebutnya Syekh Syarifuddin.

Bekas padepokan Pangeran Drajat kini menjadi kompleks perkuburan, lengkap dengan cungkup makam petilasan, terletak di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di sana dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat. Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengisahkan bahwa dari pernikahannya dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra.

Anak tertua bernama Pangeran Rekyana, atau Pangeran Tranggana. Kedua Pangeran Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa meninggalkan jejak yang meyakinkan.

Tak jelas, apakah Sunan Drajat datang di Jelak setelah berkeluarga atau belum. Namun, kitab Wali Sanga babadipun Para Wali mencatat: ”Duk samana anglaksanani, mangkat sakulawarga….” Sewaktu diperintah Sunan Ampel, Raden Qasim konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika benar, di mana keluarganya ketika perahu nelayan itu pecah? Para ahli sejarah masih mengais-ngais naskah kuno untuk menjawabnya.

Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari makam beliau telah dibangun Museum yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan beliau di bidang kesenian.

dari berbagai sumber
http://kolom-biografi.blogspot.com/2...an-drajat.html

---------------------------------------------------------

Gerbang Makam






Lorong....





Bila dilihat... banyak peziarah yang mengangkat tangan ...
menyentuh tiang'' atas lorong.....

simbol baagi mereka... kenaikan kehidupan yang bagus....
dalam sisi batin dan ekonomi setelah berjiarah ....


Makam Sunan Drajat.............



Makam...... di dalam cungkup............




terdapat keanehan... hanya saya seorang diri di dalam makam ini....
di waktu setelah Sholat Maghrib ...






di pintu makam, terdapat kucing putih....
tertidur dengan pulas...


Makam Sunan Drajat
dalam video sederhana kami ........... smile


Masjid Sunan Drajat



Bersama Imam Masjid
meminta doa restu kepada beliau... kami berencana membuat film bertema wali''
atau supranatural .....

Insya ALlah




Panggung......... Tempat bermusyawarah para wali ....







Penghargaan

Dalam sejarahnya Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa - sisa gamelan Singo meng*kok-nya Sunan Drajat kini tersimpan di Museum Daerah.

Untuk menghormati jasa - jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda-*benda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam. Museum ini telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.






dalam video sederhana kami ....


Peninggalan Sunan Drajat............









Sunan Maulana Ibrohim Asmoro qondi ayah Sunan Ampel

ke Makam Sunan Maulana Ibrohim Asmoro qondi, Tuban, jawa timur

Ayah Sunan ampel

Masjid maulana Ibrahim









Makam Maulana Ibrahim Asmoro Qondi

Adalah Makam Waliyullah yang merupakan ayahanda dari Sunan Ampel.
Nama asli beliau adalah Ibrahim Asyamar Khan.
Konon beliau dikenal sebagai seorang pejuang yang sangat kokoh dalam menyebarkan agama Islam dan memiliki keahlian sebagai pande besi yang handal dalam membuat persenjataan.

Lokasi makam Ibrahim Asmoro Qondi berada di Desa Gesikharjo, Tuban, sekitar 10 km arah timur dari Kota Tuban. Sekarang makam ini dilengkapi dengan areal parkir yang cukup luas, sekitar 250 m².

Pintu Menuju makam



Nama lengkap Ibrahim Asmoro Qondi adalah Ibrahim bin Jamaludddin Akbar bin Ahmad Jamaludddin. Dia dikenal sebagai ayah Sunan Ampel. Jika Sunan Ampel datang dari Cempa, sementara di belakang nama ayahnya ada nisbat Asmoro Qondi, sebuah daerah di dekat Bukhara Rusia, berarti Ibrahim adalah pendatang dari Samarqand. Kapan ke Jawa dan mengapa makamnya ada di Gesikharjo Tuban, sampai saat ini masih belum terungkap. Dalam beberapa serat, nama Ibrahim sering disebut sebagai Syarif Auliya’ dan Syekh Makhdum Ibrahim Asmoro. Masyarakat setempat menyebut dengan nama Ibrahim Asmoro Qondi.



Gangguan pada kamera kami ...
ternyata kami belum mengucap salam ....

Astaghfirullah ...........




makam

Ziarah Ke Syech Quro, Karawang, Jawa Barat

SEKILAS SEJARAH MAKAM SYEKH QURO.....


Karawang pada masa Islam juga merupakan kawasan penting. Pelabuhan Caravam yang sudah eksis sejak masa Kerajaan Sunda tampaknya terus berperan hingga masa Islam. Salah satu situs arkeologi dari masa Islam di Karawang adalah makam Syech Quro. Menurut tulisan yang tertera pada panil di depan komplek makam, Nama lengkap Syech Quro adalah Syech Qurotul Ain. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syech Quro adalah seorang ulama yang juga bernama Syeh Hasanudin. Beliau adalah putra ulama besar Perguruan Islam dari negeri Campa yang bernama Syech Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syech Jamaluddin serta Syech Jalaluddin ulama besar Mekah. Pada tahun 1418 datang di Pelabuhan Muara Jati, daerah Cirebon. Tidak lama di Muara Jati, kemudian pergi ke Karawang dan mendirikan pesantren. Disebutkan bahwa letak bekas pesantren Syech Quro berada di Desa Talagasari, Kecamatan Talagasari, Karawang. Di Karawang dikenal sebagai Syech Quro karena beliau adalah seorang yang hafal Al-Quran (hafidz) dan sekaligus qori yang bersuara merdu. Sumber lain mengatakan bahwa Syech Quro datang di Jawa pada 1416 dengan menumpang armada Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Cina Cheng Tu atau Yung Lo (raja ketiga jaman Dinasti Ming). Tujuan utama perjalanan Cheng Ho ke Jawa dalam rangka menjalin persahabatan dengan raja-raja tetangga Cina di seberang lautan. Armada tersebut membawa rombongan prajurit 27.800 orang yang salah satunya terdapat seorang ulama yang hendak menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Mengingat Cheng Ho seorang muslim, permintaan Syech Quro beserta pengiringnya menumpang kapalnya dikabulkan. Syech Quro beserta pengiringnya turun di pelabuhan Karawang, sedangkan armada Cina melanjutkan perjalanan dan berlabuh di Pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Di Karawang pada tahun 1338 Saka (1416 M) mendirikan pesantren di Pura Dalem, diberi nama Pondok Quro yang artinya tempat untuk belajar Al Quran. Syech Quro adalah penganut Mahzhab Hanafi, yang datang bersama anak angkat bernama Syech Bentong alias Tan Go. Dari istrinya yang bernama Siu Te Yo mempunyai seorang putri diberi nama Sie Ban Ci. Syech Quro kemudian menikah dengan Ratna Sondari dan lahir Syech Akhmad yang menjadi penghulu pertama di Karawang.

Setelah melakukan islamisasi di Karawang Syech Quro kemudian menjalani hidup menyendiri di Kampung Pulobata, Pulokalapa. Di kampung ini beliau melakukan ujlah untuk mendekatkan diri kepada Allah agar memperoleh kesempurnaan hidup. Demikian ini beliau lakukan hingga akhir hayat.
Makam Syech Quro ditemukan oleh Raden Sumareja (Ayah Jiin) dan Syech Tolha pada hari Sabtu akhir bulan Sya’ban tahun 1859. Mungkin karena ditemukan pada hari Sabtu maka hingga sekarang pada setiap hari Sabtu banyak orang yang berziarah. Komplek makam ini berada di pemukiman penduduk Kampung Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang tepatnya pada koordinat 06° 15' 101" Lintang Selatan dan 107° 28' 900" Bujur Timur.

Komplek makam berada pada lahan seluas 2.566 m2 yang batas-batasnya sebelah utara pemukiman, timur, selatan, dan barat berupa sawah. Komplek makam ini berada di sebelah selatan jalan desa. Sebelum memasuki komplek makam terdapat halaman yang sangat luas berfungsi sebagai tempat parkir kendaraan para peziarah. Di pinggir halaman parkir ini terdapat deretan warung yang menyediakan makanan serta benda-benda untuk keperluan ibadah seperti tasbih, peci, mukena, baju koko, dan kitab. Selain di pinggir lahan parkir, sebetulnya sudah disediakan tempat khusus untuk berjualan yang mirip pasar tradisional. Lahan tempat berjualan ini terletak di sebelah timur komplek makam. Aktivitas berjualan kelihatan hidup pada setiap hari Jumat malam hingga Sabtu, karena pada hari itu merupakan hari puncak pelaksanaan ziarah.


Komplek makam bagian depan diberi pembatas pagar tembok berwarna hijau. Bentuk arsitektur pagar tembok tersebut melengkung dengan jarak lengkungan tertentu sehingga terbentuk beberapa puncak lengkungan. Pada setiap puncak lengkung pagar dihias dengan semacam kubah masjid. Sisi-sisi lengkungan pagar berhias kaligrafi. Gerbang masuk bagian atasnya juga melengkung, tetapi lengkungannya merupakan kebalikan dengan lengkung pagar.


Di sebelah barat gerbang masuk terdapat salah satu dari tujuh sumur keramat yang berada di komplek makam. Di sebelah timur gerbang masuk bagian dalam terdapat panil peringatan penemuan komplek makam. Pada panil peringatan tersebut juga tertulis pesan Syech Quro yang berbunyi: “Ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa”.


Di halaman dalam komplek makam terdapat masjid dan cungkup makam Syech Quro. Sebagai objek yang bersifat living monument, semua bangunan di komplek makam ini selalu berkembang mengikuti situasi. Bangunan cungkup makam Syech Quro sebagai bangunan inti merupakan bangunan baru, terbagi tiga bagian. Bagian depan merupakan bagian terbuka, bagian tengah merupakan ruangan untuk berdoa, dan bagian dalam tempat makam Syech Quro. Para peziarah tidak diperkenankan memasuki ruangan makam Syech Quro, peziarah cukup sampai di depan pintu ruangan. Didepan pintu tersebut terdapat beberapa benda untuk ziarah seperti tempat pembakaran kemenyan, beberapa plastik tempat air mineral yang berisi air dari sumur keramat, dan kotak kayu tempat shodaqoh. Jirat makam berukuran 2,70 x 2,25 m. Nisan terbungkus kain putih. Tinggi nisan 85 cm. Di samping cungkup makam terdapat salah satu sumur keramat yang dinamakan sumur awisan. Sumur tersebut berdiameter 1 m.


Lokasi: Kampung Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang

Koordinat : 06° 15' 101" S, 107° 28' 900" E


-------------------------------------------------------------------


LEMAHABANG,PELITA-.

Makam Waliyullah Syekh Qurotul’ain, terletak di Kampung Pulobata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Karawang.bangunan yang berdiri megah itu,pada saat sekarang menjadi tempat berkunjung

Para peziarah dan PARIWISATA RELIGIUS dari berbagai pelosok Nusantara. mereka datang,khususnya setiap Jum’at malam Sabtu atau sering,orang-orang menyebutnya istilah Sabtuan. Karamat Pulobata adalah, Situs sejarah Islam yang merupakan asset kabuapten karawang dalam bab Paraiwisata dan menjadikan suatu aset penting dan berharga bagi desa Pulobata yang utama.

Konon kabarnya, Ulama besar yang bergelar Syekh Qurotul’ain dengan nama aslinya Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin, beliau adalah seorang yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ulama yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya.Syekh Quro adalah putra ulama besar Mekkah,penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali Ra dan Siti Fatimah putri Rosulullah SAW.

Pada waktu itu tanah Jawa masih dibawah kekuasaan Negeri Pajajaran dan masih menganut agama Hindu, dengan seorang Raja yang bernama Prabu Anggalarang, Kekuasaan pabu tersebut meliputi wilayah Karawang. sebelumnya datang ke tanah Karawang sekitar tahun 1409 Masehi, Syekh Quro menyebarkan Agama islam di negeri Campa berawal, lalu ke daerah Malaka dan dilanjutkan ke daerah Martasinga Pasambangan dan Japura akhirnya sampai ke Pelabuhan Muara Jati Cirebon.disini beliau disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati,yang masih keturunan Prabu Wastu Kencana dan, oleh masyarakat sekitar.mereka sangat tertarik dengan ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro yang di sebut ajaran agama Islam.

Penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh syekh Quro di tanah Jawa, rupanya sangat mencemaskan raja Pajaran Prabu Anggalarang, sehingga pada waktu itu, penyebaran agama Islam agar dihentikan. Perintah dari Raja Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syeh Quro. namun,kepada utusan dari Raja Pajaran
yang mendatangi Syekh Quro, beliau mengingatkan,meskipun ajaran agama Islam dihentikan penyebarannya tapi kelak, dari keturunan Prabu Anggalarang akan ada yang menjadi seorang Waliyullah.

Beberapa saat kemudian beliau pamit pada Ki Gedeng Tapa untuk kembali ke negeri Campa, di waktu itu pula Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang, untuk ikut dan berguru pada Syekh Quro. Tak lama kemudian Syekh Quro datang kembali ke negeri Pajajaran beserta Rombongan para santrinya, dengan menggunakan Perahu dagang dan serta di dalam rombongan adalah Nyi Mas Subang Larang, Syekh Abdul Rahman, Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.

Setelah Rombongan Syekh Quro melewati Laut Jawa dan Sunda Kelapa dan masuk Kali Citarum, yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Pajajaran, akhirnya rombongan beliau singgah di Pelabuhan Karawang.

Menurut buku sejarah masa silam Jawa Barat yang terbitan tahun 1983 disebut, Pura Dalem mereka masuk Karawang sekitar 1416 M. yang mungkin dimaksud Tangjung Pura, dimana kegiatan Pemerintahan dibawah kewenangan Jabatan Dalem. Karena rombongan tersebut, sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan, sehingga aparat setempat sangat menghormati dan memberikan izin untuk mendirikan Mushola (1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka. Setelah beberapa waktu berada di pelabuahan Karawang, Syekh Quro menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunya (sekarang Mesjid Agung Karawang). dari urainnya mudah dipahami dan mudah diamalkan,ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang.

Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya, Nyi Subang Larang, Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti, Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).

Berita kedatangan kembali Syekh Quro, rupanya terdengar oleh Prabu Anggalarang yang pernah melarang penyebaran agama islam di tanah Jawa, sehingga Prabu Anggalarang mengirim utusannya untuk menutup pesantren Syekh Quro utusan yang datang itu adalah Putra Mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa. sesampainya di pesantren putra mahkota tersebut hatinya tertambat oleh alunan suara yang merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang,” dalam mengalunkan suara pengajian Al-Qur’an,”

Prabu Pamanah Rasa akhirnya mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Atas kehendak yang Maha Kuasa Prabu Pamanah Rasa, menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan merdu suaranya. Lalu,akhirnya Prabu Pamanah Rasa melamar dan ingin mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya. Pinangan tersebut diterima tapi, dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus,yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berwirid.

Selain itu, Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain yaitu, agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja. seterusnya menurut cerita, semua permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa. Atas petunjuk Syekh Quro, Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.

Di tanah suci Mekkah, Prabu Pamanah Rasa disambut oleh seorang kakek penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget, ketika namanya di ketahui oleh seorang kakek. Dan Kakek itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat.Sang Prabu Pamanah Rasa denga tulus dan ikhlas mengucapkan, Dua Kalimah Syahadat yang makna pengakuan pada Allah SWT,sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad adalah utusannya.

Semenjak itulah, Prabu Pamanah Rasa masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh,mulai dari itu,Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya.Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Kraton Pajajaran,Untuk melangsungkan pernikahannya denga Nyi Subang Larang waktu ters berjalan maka pada tahun 1422 M,pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro.setelah menikah Prabu Pamanahah Rasa dan dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran dengan gelar Prabu Siliwangi.

Hasil dari pernikahan tersebut mereka dikarunai 3anak yaitu:
1. Raden Walangsungsang ( 1423 Masehi)
2. Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi)
3. Raja Sangara ( 1428 Masehi).

Setelah melewati usia remaja, Raden Walangsunsang bersama adiknya Nyi Mas Rara Santang pergi meninggalkan Pakuan Pajajaran dan mendapat bimbingan dari ulama besar Syekh Nur Jati di Perguruan Islam Gunung Jati Cirebon.

Setelah kakak beradik menunaikan ibadah Haji,maka Raden Walang Sungsang Menjadi Pangerang Cakra Buana dengan sebutan Mbah Kuwu Sangkan dengan beristerikan Nyi Mas Endang Geulis Putri Pandita Ajar Sakti Danuwarsih. Sedangkan Nyi Mas Rara Santang waktu pergi ke Mekkah diperisteri oleh Sultan Mesir yang bernama Sarif Abdulah (Raja Mesir), sedangkan Raja Sangara menyebarkan agama islam di tatar selatan dengan sebutan Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat), wafat dan dimakamkan di Godog Suci Garut. Nyi Mas Rara Santang setalah menikah dengan raja Mesir, Namanya diganti menjadi Syarifah Mudaim, dari hasil pernikahannya dikaruniai dua orang putra masing-masing bernama Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Setelah ayahnya meninggal dunia, jabatan Sultan Mesir diserahkan kepada Syarif Nurullah, sedangkan Syarif Hidayatullah meneruskan menimba ilmu agama islam
dari ulama Mekkah dan Bagdad.

---------------------------------------------------------------------------------------

kisah lainnya ...

Pada abad ke-8, ada seorang Syech besar di sekitar daerah Karawang bernama Syech Quro yang mempunyai puteri bernama Subang Keranjang yang sangat cantik. Syech Quro melakukan syiar agama Islam karena pada saat itu masyarakatnya beragama Hindu dan dikuasai oleh Kerajaan Pajajaran dengan rajanya bernama Tarumanagara (Prabu Siliwangi Ke-4).

Suatu hari Subang Keranjang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan menikmati bunga-bunga. Tiba-tiba datanglah seorang pria yang ternyata adalah Prabu Siliwangi, Tarumanagara. Saat itu Tarumanagara sedang berburu bersama rombongan kerajaan. Tarumanagara terkejut dan terpukau dengan kecantikan Subang Keranjang. Tarumanagara bertanya kepada Subang Keranjang, 'Sedang apa seorang wanita sendirian berada di hutan dan bertempat tinggal dimana? dan bersama siapa?". Subang Keranjang menjawab, kalau dirinya sedang mencari kayu bakar dan menikmati bunga-bunga indah di hutan untuk melepas lelah setelah seharian bekerja serta bertempat tinggal bersama ayahnya berdua tidak jauh dari situ.

Karena terpesona dengan kecantikan wanita itu, Tarumanagara menawarkan diri untuk mengantarkan Subang Keranjang ke rumah sekaligus ingin bertemu dengan Syech Quro sekaligus memberi makan dan minum pasukannya dan kuda-kudanya. Ternyata Tarumanagara bukan hanya mengantarkan ke rumah saja, saking terpukaunya saat bertemu Syech Quro disampaikan maksud kedatangannya dan secara mengejutkan Tarumanagara mengajukan lamaran kepada Syech Quro untuk meminang Subang Keranjang. Rupanya Subang Keranjang sejak awal bertemu sudah ada ketertarikan kepada Tarumanagara dan menyetujui lamaran itu.

Tetapi Syech Quro tidak begitu saja setuju. Dikatakannya boleh meminang Subang Keranjang, asalkan Tarumanagara dapat menemukan jimat "BINTANG BERDERET". Setelah menemukan jimat barulah boleh menikah dengan putrinya.Tarumanagara menyetujui keinginan Syech Quro karena cinta.

Setelah itu Tarumanaga kembali ke kerajaan dan dikumpulkan para menteri dan para pendeta untuk mendiskusikan dan mencari tahu jimat bintang berderet itu. Disebarlah orang-orang suruhan Tarumanagara untuk mencari jimat itu di seluruh antero kerajaan bahkan diluar kerajaan Pajajaran. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hasilnya nihil, sampai Tarumanagara melakukan meditasipun tidak menemukan jawaban. Wah Ga bisa kawin nih katanya seperti putus asa.

Suatu hari diam-diam, Tarumanagara pergi ke hutan sendiri untuk bertemu Subang Keranjang sambil melepaskan kerinduan. Dijelaskan kepada Subang Keranjang bahwa dia sudah putus asa dan frustasi. Tiba-tiba Subang Keranjang menjelaskan kepadanya bahwa jimat Bintang Berderet itu ada di rumahnya tepatnya di dalam kamar sang ayah. Tarumanagara bertanya apa itu? Ternyata itu adalah TASBIH. Mereka berdua akhirnya pergi ke rumah untuk mengambil jimat itu. Saat akan diambil oleh Tarumanagara, muncullah Syech Quro di hadapannya. Syech Quro berkata tidak boleh sembarang orang boleh menyentuh Tasbih itu kecuali orang itu talah beragama Islam. Tarumanagara bingung dan bertanya apa itu Islam. Dijawab oleh Syech, untuk tahu Islam harus masuk Islam dan syaratnya adalah membaca 2 kalimat Syahadat. Karena cintanya kepada Subang Keranjang, tanpa pikir panjang Tarumanagara menyatakan masuk Islam dan mengucapkan 2 kalimat syahadat dengan diawali Basmalah. Karena orang Hindu, Tarumanagara tidak bisa mengucapkan Basmalah dengan baik diucapkan menjadi Bismillah Nirakam Nirakim dan terkejutnya dia setelah mengucapkan itu terdengar suara-suara aneh dilihatnya tumbuhan, hewan, benda mati bisa berbicara dengannya.

Tarumanagara bertanya mengapa bisa begitu kejadiannya dan menggunakan ilmu apa. kemudian Tarumanagara menyatakan keinginan untuk belajar kepada Syech. Dikatakan oleh Syech untuk belajar semua itu harus di tengah lautan dan tidak didengar oleh makhluk ciptaan Allah yang ada di sekitar dan diajarkan tidak secara terbuka tetapi dengan batin.

Suatu masa pergilah berdua ketengah lautan untuk belajar ilmu agama menggunakan sampan. Di tengah lautan dengan meditasi dan belajar secara batin akhirnya diajarkan semua ilmu Syech kepada Tarumanagara. Tetapi ada kejadian yang tidak terduga, saking gembiranya mendapatkan ilmu tanpa disadari Tarumanagara lepas bathin dan mengeluarkan kata-kata yang keras seperti menghapal amalan yang diberikan Syech Quro. Apa yang terjadi. Muncullah manusia-manusia dihadapan mereka. Ternyata mereka adalah jelmaan akibat dari amalan itu. Ketika akan berangkat sampannya bocor dan ditambal dengan tanah merah yang di dalamnya terdapat cacing dan di dalam sampan ada gentong. Tanah merah berubah wujud menjadi manusia yang diberi nama Syech Lemah Abang, Cacing berubah menjadi Syech Siti Jenar, Gentong berubah menjadi Syech Gentong dan ada satu ikan yang muncul di permukaan berubah menjadi Puteri Duyung.

Itulah kebesaran Allah dengan Kun Faya Kun-nya apabila Allah berkehendak Jadi maka Jadilah. Semua ini nyata dan ada makam-makam mereka di daerah Pulau Bata Karawang. Siapakan Syech Quro? Sebenarnya Syech Quro itu adalah Syech Abdul Qadir Jaelani atau Sadat Safir (namanya di negeri Campa/kamboja) atau Syech Abdul Mukhyi yang ada di Pamijahan Tasikmalaya. Nama-nama itu satu orang tetapi berlainan di setiap tempat dalam rangka syiar agama Islam. Begitulah ceritanya dibalik nama Syech Gentong atau yang diplesetin Cech Gentong

di gerbang makam Syech Quro






karena ramainya para peziarah... kami mendapatkan tempat paling belakang
di Pangimaman masjid

Berdoa di makam










Tempat belajar Al Qur'an



Senin, 13 Agustus 2012

Sunan Bonang / Syekh Maulana Makhdum Ibrahim

Sunan Bonang / Syekh Maulana Makhdum Ibrahim


Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. Putra Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila. Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah putri Prabu Kertabumi ada pula yang berkata bahwa Dewi Condrowati adalah putri angkat Adipati Tuban yang sudah beragama Islam yaitu Ario Tejo.

Sebagai seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa ,tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi.

Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin . Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha para Wali itu lebih berat dari pada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon Wali yang besar , maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin . Disebutkan dari berbagai literature bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang ,yaitu Negeri Pasai . Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri,juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai .Seperti ulama ahli tasawuf yang berasal dari Bagdad, Mesir , Arab dan Persi atau Iran. Sesudah belajar di Negeri Pasai, Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang keJawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal sebagai Sunan Giri .

Sedang Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah diTuban. Dalam berdakwa Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.

Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya . Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat . Lebih –lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang Wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya . Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang, pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya . Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang – tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim.

Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran.Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran Islam kepada mereka.

Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam.Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.

Diantara tembang yang terkenal ialah :

“Tamba ati iku sak warnane,
Maca Qur’an angen-angen sak maknane,
Kaping pindho shalat sunah lakonona,
Kaping telu wong kang saleh kancanana,
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe,
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe,
Sopo wongé bisa ngelakoni, Insya Allah Gusti Allah nyemba dani.

Artinya :
Obat sakit jiwa ( hati ) itu ada lima jenisnya.
Pertama membaca Al-Qur’an dengan artinya,
Kedua mengerjakan shalat malam ( sunnah Tahajjud ),
Ketiga sering bersahabat dengan orang saleh ( berilmu ),
Keempat harus sering berprihatin ( berpuasa ),
Kelima sering berdzikir mengingat Allah di waktu malam,
Siapa saja mampu mengerjakannya, Insya Allah Tuhan Allah mengabulkan.

Hingga sekarang lagi ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jama’ah, baik di pedesaan maupun dipesantren. Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang. Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk .Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda . (Nederland )

Pada masa hidupnya, Sunan Bonang termasuk penyokong kerajaan Islam Demak, dan ikut membantu mendirikan Masjid Agung Demak. Oleh masyarakat Demak ketika itu, ia dikenal sebagai pemimpin bala tentara Demak. Dialah yang memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung sebagai panglima tentara Islam Demak.

Ketika Sunan Ngudung gugur, Sunan Bonang pula yang mengangkat Sunan Kudus sebagai panglima perang. Nasihat yang berharga diberikan pula pada Sunan Kudus tentang strategi perang menghadapi Majapahit. Selain itu, Sunan Bonang dipandang adil dalam membuat keputusan yang memuaskan banyak orang, melalui sidang-sidang ”pengadilan” yang dipimpinnya.

Misalnya dalam kisah pengadilan atas diri Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang. Lokasi ”pengadilan” itu sendiri punya dua versi. Satu versi mengatakan, sidang itu dilakukan di Masjid Agung Kasepuhan, Cirebon. Tapi, versi lain menyebutkan, sidang itu diselenggarakan di Masjid Agung Demak. Sunan Bonang juga berperan dalam pengangkatan Raden Patah.

Dalam menyiarkan ajaran Islam, Sunan Bonang mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ihya Ulumuddin dari al-Ghazali, dan Al-Anthaki dari Dawud al-Anthaki. Juga tulisan Abu Yzid Al-Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ajaran Sunang Bonang, menurut disertasi JGH Gunning dan disertasi BJO Schrieke, memuat tiga tiang agama: tasawuf, ussuludin, dan fikih.

Ajaran tasawuf, misalnya, menurut versi Sunan Bonang menjadi penting karena menunjukkan bagaimana orang Islam menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaannya kepada Allah. Para penganut Islam harus menjalankan, misalnya, salat, berpuasa, dan membayar zakat. Selain itu, manusia harus menjauhi tiga musuh utama: dunia, hawa nafsu, dan setan.

Untuk menghindari ketiga ”musuh” itu, manusia dianjurkan jangan banyak bicara, bersikap rendah hati, tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas nikmat Allah. Sebaliknya, orang harus menjauhi sikap dengki, sombong, serakah, serta gila pangkat dan kehormatan. Menurut Gunning dan Schrieke, naskah ajaran Sunan Bonang merupakan naskah Wali Songo yang relatif lebih lengkap.

Ajaran wali yang lain tak ditemukan naskahnya, dan kalaupun ada, tak begitu lengkap. Di situ disebutkan pula bahwa ajaran Sunan Bonang berasal dari ajaran Syekh Jumadil Kubro, ayahanda Maulana Malik Ibrahim, yang menurunkan ajaran kepada Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria.

Dikisahkan beliau pernah menaklukkan seorang pemimpin perampok dan anak buahnya hanya mempergunakan tambang dan gending. Dharma dan irama Mocopa,t Begitu gending ditabuh Kebondanu dan anak buahnya tidak mampu bergerak, seluruh persendian mereka seperti dilolosi dari tempatnya. Sehingga gagallah mereka melaksanakan niat jahatnya.

“Ampun ………. hentikanlah bunyi gamelan itu, kami tidak kuat !” Demikian rintih Kebondanu dan anak buahnya.

“Gending yang kami bunyikan sebenarnya tidak berpengaruh buruk terhadap kalian jika saja hati kalian tidak buruk dan jahat.”

“Ya, kami menyerah, kami tobat !Kami tidak akan melakukan perbuatan jahat lagi, tapi ………. “ Kebondanu ragu meneruskan ucapannya.

“Kenapa Kebondanu, teruskan ucapanmu !” ujar Sunan Bonang.

“Mungkinkah Tuhan mengampuni dosa-dosa kami yang sudah tak terhitung lagi banyaknya,” kata Kebondanu dengan ragu. “Kami sudah sering merampok, membunuh dan melakukan tindak kejahatan lainnya.”

“Pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja,” kata Sunan Bonang. “Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Penerima tobat.”

“Walau dosa kami setinggi gunung ?” Tanya Kebondanu.

“Ya, walau dosamu setinggi gunung dan sebanyak pasir dilaut.”

Akhirnya Kebondanu benar-benar bertobat dan menjadi murid Sunan Bonang yang setia. Demikian pula anak buahnya.

-------------------------------------

Pada suatu ketika juga ada seorang Brahmana sakti dari India yang berlayar ke Tuban. Tujuannya hendak mengadu kesaktian dan berdebat tentang masalah keagamaan dengan Sunan Bonang. Namun ketika ia berlayar menuju Tuban, perahunya terbalik dihantam badai. Walaupun ia dan para pengikutnya tidak berhasil menyelamatkan diri kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah tenggelam ke dasar laut. Di tepi pantai mereka melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat. Mereka menghentikan lelaki itu dan menyapanya. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkah dan menancapkan tongkatnya ke pasir.

“Saya datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan Bonang.”kata sang Brahmana.

“Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya lelaki itu .

“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan ,kata sang Brahmana .”Tapi sayang kitab –kitab yang saya bawa telah tenggelam kedasar laut .”

Tanpa banyak bicara lelaki itu mencabut tongkatnya yang menancap dipasir , mendadak tersemburlah air dari lubang tongkat itu, membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

“Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam kedasar laut?”Tanya lelaki itu.

Sang Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar miliknya sendiri. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapa sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

“Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?”tanya sang Brahmana

“Tuan berada dipantai Tuban !”jawab lelaki itu .Serta merta Brahmana dan para pengikutnya menjatuhkan diri berlutut dihadapan lelaki itu. Mereka sudah dapat mendiga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang sendiri.

Siapalagi orang sakti berilmu tinggi yang berada dikota Tuban selain Sunan Bonang . Sang Brahmana tidak jadi melaksanakan niatnya menantang Sunan Bonang untuk adu kesaktian dan mendebat masalah keagamaan, malah kemudian ia berguru kepada Sunan Bonang dan menjadi pengikut Sunan Bonang yang setia.

Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Saat akan dimakamkan, ada perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, karena sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ”mencuri” jenazah sang Sunan.

Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.

Adalagi legenda aneh tentang Sunan Bonang .

Sewaktu beliau wafat, jenasahnya hendak dibawa ke Surabaya untuk dimakamkan disamping Sunan Ampel yaitu ayahandanya . Tetapi kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak sehingga terpaksa jenazahnya Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu disebelah barat Masjid Jami ’Tuban.

dari berbagaai sumber

CMIIW

---------------------------------------------------------

Sholat dan Berdoa di Masjid Agung Tuban




Gerbang kedua ......... Makam Sunan Bonang




Gerbang Ketiga Makam Sunan Bonang ...


Makam Sunan Bonang






Pembentukan Wali Songo di jawa oleh Sayyid Jumadil Kubro

Ziarah ke makam Wali Jawa Timur





Pembentukan Wali Songo


Dalam pertemuannya dengan Sultan Muhammad I (Raja Turki saat itu) Sayyid Jumadil Kubro mengusulkan agar Sultan Muhammad I mengundang beberapa ulama’ dari wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang memiliki karomah besar untuk diajak musyawarah membahas kegiatan dakwah Islam dan pengembangannya di Pulau Jawa.

Setelah mendengar dan memperhatikan cerita pengalaman dan temuan Sayyid Jumadil Kubro tentang situasi dan keadaan agama Islam di daerah Pulau Jawa, akhirnya disepakati bahwa, untuk melakukan kegiatan dakwah ke Pulau Jawa ditunjuk dan ditugaskan 9 (sembilan) orang ulama’ (Auliya) dengan berbagai keahliannya masing”. Sembilan orang itu akan dibagi menjadi tiga bagian, Jawa Timur tiga orang ulama, Jawa Tengah tiga orang ulama, Jawa Barat itga ulama dengan masa bhakti satu abad, apabila terjadi ada yang wafat atau pindah dari Pulau Jawa harus mengadakan rapat untuk mencari penggantinya. Kesemblan ulama tersebut selanjutnya dilembagakan dan ditetapkan dengan sebutan WALI SONGO yang untuk pertama kalinya beranggotakan sembilan ulama:

1. Maulana Malik Ibrahim

lama dari Turki ahli Tata negara dan pengobatan, beliau berdakwah di Jawa Timur, wafat di Gresik tahun 119M.

2. Maulana Ishaq
Ulama dari Samarkhan beliau putra dari Sayyid Jumadil Kubro, ahli pengobatan, berdakwah di Jawa Imur, setelah tugas di Blambangan Banyuwangi beliau pindah ke Pasai. Menurut KH. Abdurrahman Wahid beliau wafat dan dimakamkan di Jombang di Jl. Garuda Dusun Tambak Beras, Desa Tambak Rejo Kecamatan Jombang (Jawa Timur).

3. Maulana Jumadil Kubro

Ulama dari Samarkhan Azarbaizhan, ahli militer dan beliau terkenal sebagai orang sakti, berdakwah di lingkungan Kerajaan Majapahit, wafat di Troloyo Mojokerto tahun 1465 M.

4. Maulana Ahmad Al Maghroby (Sunan Geseng)

Ulama dari Maroko Afrika Utara, beliau terkenal sebagai orang yg kuat dan sakti, berdakwah di Jawa Tengah, wafat di daerah Mojopahit dan di makamkan di pesantrennya Jati Anom Klaten 1465 M.

5. Maulana Malik Isroil
Ulama dari Turki ahli mengatur negara, berdakwah di Jawa Tengah, wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barattahun 1435 M.

6. Maulana Muhammad Ali Akbar

Ulama dari Persia (Iran) ahli Pengobatan dan pertanian berdakwah di Jawa Tengah, Wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barat tahun 1435 M.

7. Maulana Hasanudin
Ulama dari Palestina, berdakwah di Jawa Barat dan beliau terkenal sebagai orang sakti, wafat tahun 1462 M, dimakamkan di samping Masjid Banten Lama.

8. Maulana Alayudin
Ulama dari Palestina, berdakwah di Jawa Barat, wafat tahun1462 M, dimakamkan di samping masjid Banten Lama.

9. Syech Subakir

Ulama dari Persia (Iran) ahli supranatural (tumbal tanah angker/mengusir Jin, syetan, Gendruwo dsb. Tugasnya di P. Jawa dan belia kembali ke negerinya, Persia tahun 1462 setelah tugasnya selesai.

Dari sembilan ulama (wali Songo) generasi pertama ini yg ditunjuk sebagai pemimpin atau Mufti adalah Maulana Malik Ibrahim yg bertempat tinggal di Gresik.
Sembilan Wali ini diberangkatkan oleh Sultan Muhammad I dari Turki pada tahun 1404 M dengan mengendarai kapal dagang dan membawa barang dagangan.

-------------------------------------

Wali SONGO Periode II

1.Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) beliau menggantikan Maulana Malik Ibrahim yg wafat pada tahun 1419 M, dan dimakamkan di Gresik. Beliau menjadi Mufti Wali Songo selama 15 tahun
2. Maulana Iskhak (TETAP)
3. Maulana Jumadil Kubro (Tetap)
4. Maulana Muhammad Almaghribi (Sunan Geseng) (Tetap)
5. Sayid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus)
Beliau menggantikan Maulana Malik Isro’il yg telah wafat pada tahun 1435 M, beliau menjadi anggota Wali Songo selama 31 tahun dan dimakamkan di Gunung Santri Cilegon Jawa Barat.
6. Sayid Sarif Hidayatulloh (Sunan Gungung Jati).
Beliau menggantikan Maulana Ali Akbar yg telah wafat pada tahun 1435 M dan beliau dimakamkan di Gunung Santri Cilegon Jawa Barat. Beliau menjadi anggota Wali Songo selama 31 tahun.
7. Maulana Hasanudin (Tetap)
8. Maulana Aliyudin (Tetap)
9. Syeh Subakir (Tetap)

Rapat ini di selenggarakan di Ampel, Surabaya, mengangkat Sunan Ampel sebagai Mufti dari Wali Songo. Banyak Adipati dan Pembesar dari Majapahit yg hadir, bahkan Prabu Kartawijaya juga ikut hadir dan mendukung Sunan Ampel.

---------------------------------------------

Walisongo Periode III


1. Sayid Rahmatulloh (Sunan Ampel) Tetap
2. Raden Paku (Maulana Ainul Yakin) (Sunan Giri) anaknya Maulana Iskhak dengan Ibu Dewi Sekardadu Blambangan, beliau mengantikan ayahnya Maulana Iskhak karena pindah ke Pasai.
3. Maulana Jumadil Kubro (Tetap)
4. Maulana Muhammad Almaghribi (Sunan Geseng) tetap
5. Sayid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Tetap
6. Sayid Sarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) tetap
7. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Beliau anak Sunan Ampel menggantikan Maulana Hasanudin yg wafat pada tahun 1462 Masehi, beliau dimakamkan di di samping Masjid Banten Lama. Beliau menjadi anggota Wali Songo selama 58 Tahun.
8. Raden Qosim (S. Drajat). Beliau anak Sunan Ampel mengantikan Maulana Aliyudin dari Palestina wafat tahun 1462. Beliau dimakamkan di samping mMasjid Banten Lama. Beliau menjadi anggota Wali Songo selama 58 tahun.
9. Raden Said (Sunan Kalijaga) anak adipati Wilatikta Tuban menggantkan Syeh Subakir yg kembali ke negaranya Persia karena tugasnya sudah selelsai. Beliau menjadi anggota Wali Songo selama 59 tahun.

------------------------------------------------

WALISONGO PERIODE IV
1. Sayid Ali Rahmatullaoh (Sunan Ampel) tetap
2. Raden Paku (Ainul Yaqin) nama kecilnya Joko Samudro (tetap)
3. Raden Hasan (Raden Patah) menggantikan Sayid Jumadil Kubro yg wafat pada tahun 1465M.
4. Raden Umar Said (Sunan Muria) menggantikan Maulana Muhammad AL Maghribi yg wafat pada tahun 1465M.
5. Sayid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Tetap
6. Fatkullah khan atau biasa disebut orang Faletehan. Beliau menggantikan ayahnya Sarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yg sudah terlalu tua.
7. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) tetap
8. Maulana Alayuddin (tetap)
9. Radden Said (Sunan Kalijaga) tetap

------------------------------------------------

WALISONGO PEROIODE V 1479M
1. Raden Paku (Ainul Yakin) atau biasa dikenal dengan Sunan Giri (Tetap)
2. Raden Patah (Raden Hasan) Tetap
3. Raden Umar Said (Sunan Muria)tetap
4. Sayid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Tetap
5. Fatkhullah Khan atau disebut Faletehan (Tetap.
6. Radn Ma’dum Ibrahim (Sunan Bonang) tetap
7. Raden Qosim (Sunan Drajat) anaknya Sunan Ampel (Tetap)
8. Raden Said (Sunan Kalijaga) Tetap
9. Syeh Siti Jenar menggantikan Sayid Ali Rahmatullaoh (Sunan Ampel) yg telah wafat pada tahun 1478 M.

------------------------------------------------

WALISONGO
Setelah periode V tidak ada rapat pembentukan lagi.
Masyarakat luas memahami anggota Wali Songo berranggotan sembilan orang hanya beliau” ini:
1. Maulana Malik Ibrahim (Gresik)
2. Maulana Ali ohmatullah (Sunan Ampel)
3. Maulana Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang)
4. Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri)
5. Raden Qosim (Sunan Drajat)
6. Raden Umar Said (Sunan Muria)
7. Syayid Jakfar Sodiq (Sunan Kudus
8. Raden Said (Sunan Kalijogo)
9. Sayid Sarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Sumber: Punjer Wali Songo
Sejarah Sayyid Jumadil Kubro

CMIIW (Mohon dikoreksi bila ada kesalahan)


------------------------------------------


Makam Sunan Cendana kwanyar bangkalan

nama aslinya adalah Syaikh Zainal Abidin atau lebih terkenal dengan nama Sunan Cendana merupakan keturunan ke 25 dari Nabi Muhammad SAW, cucu dari Sunan Drajat yang .terletak di sebelah barat masjid Jami' Kwanyar kira-kira 200 m.makam ini cukup ramai dikunjungi oleh peziarah lokal maupun nasional apalagi menjelang puasa Ramadhan hari ke21 dan hari ke27.bila anda ingin info terlengkap tentang kisah Sunan Cendana anda dapat menjumpai kiai Badrusz sholeh (pengasuh PP.Miftahut Tholibin) atau Kiai Hannan Nawawie Fadlie (pengasuh PP.Darul fatwa) sebagai juru kunci sekaligus sesepuh desa Kwanyar.

Jumat, 10 Agustus 2012

Kisah Datuk Ibrahim Penyebar Islam di Bali dan Banyuwangi

Makam Datuk Abrahim Bauzir adalah makam yang paling dikeramatkan di Banyuwangi, Jawa Timur. Makam ini berada di 3 kilometer arah utara kota Banyuwangi atau tepatnya Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Lateng.

Saat Ramadan, makam ini tak pernah sepi dari peziarah. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia baik Jawa, Kalimantan hingga Aceh. Berbagai macam niatan mereka, mulai berdoa untuk meminta kesembuhan, kesuksesan dan rejeki.

Kompleks makam menempati area hampir satu hektare di daerah yang dulunya bernama Kampung Arab. Di halaman depan dan belakang tersebar puluhan makam kerabat dan sahabat Datuk. Makam Datuk sendiri berada di ruangan khusus sebelah utara kompleks.

Dalam ruangan khusus seluas 5x7 meter itu, Datuk Bauzir dimakamkan. Tirai tipis menutupi nisannya yang berkeramik putih. Makam Datuk diapit makam putranya, Syekh Ahmad, dan sahabatnya, Sayyid Hasan.

Abdul Munif, 36 tahun, keturunan keenam Datuk Bauzir, menceritakan Datuk Bauzir merupakan bangsawan asal Yaman keturunan Bani Hasyim. Ia adalah wali besar yang berperan dalam menyebarkan Islam di Banyuwangi serta di Loloan, Jembrana, Bali.

Datuk datang ke Nusantara, kata Munif, sekitar tahun 1770 dan transit di Banyuwangi yang dulunya bernama Blambangan. Datuk kemudian memilih siar Islam ke daerah Loloan, Bali, karena penduduk daerah ini mayoritas masih beragama Hindu. "Sekarang di Loloan mayoritas warganya beragama Islam," katanya.

Saat di Loloan, Datuk menikahi gadis setempat bernama Zaenab. Dari perkawinan tersebut lahirlah dua putra bernama Syekh Sayyid Bakar Bauzir dan Datuk Ahmad. Namun, putra sulungnya meninggal terlebih dahulu yang kemudian disusul istrinya. Keduanya dimakamkan di Loloan.

Setelah kepergian istri dan anaknya, Munif menjelaskan, Datuk kemudian pindah ke Banyuwangi dengan mengajak anak keduanya bersama sahabatnya, Sayyid Hasan, pada 1840. Datuk meneruskan siar Islam di Banyuwangi semasa Banyuwangi dipimpin Bupati Pringgokusumo. "Saat itu di Banyuwangi juga masih banyak yang beragama Hindu," katanya.

Datuk tinggal di Kampung Arab yang saat kedatangannya sudah ada ratusan orang Arab yang tinggal. Mereka kebanyakan juga berasal dari Yaman. "Pada 1876 atau pada usia 86 tahun, Datuk tutup usia," kata lelaki yang juga bertugas sebagai penjaga makam.

Makam Datuk dikeramatkan hingga kini karena cerita kesaktian Datuk terus menjadi cerita turun-temurun. Menurut Munif, dulunya setiap hari Datuk selalu salat Duha di atas laut yang berada di ujung Kampung Arab.