Senin, 13 Agustus 2012

Sunan Bonang / Syekh Maulana Makhdum Ibrahim

Sunan Bonang / Syekh Maulana Makhdum Ibrahim


Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. Putra Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila. Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah putri Prabu Kertabumi ada pula yang berkata bahwa Dewi Condrowati adalah putri angkat Adipati Tuban yang sudah beragama Islam yaitu Ario Tejo.

Sebagai seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa ,tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi.

Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin . Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha para Wali itu lebih berat dari pada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon Wali yang besar , maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin . Disebutkan dari berbagai literature bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang ,yaitu Negeri Pasai . Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri,juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai .Seperti ulama ahli tasawuf yang berasal dari Bagdad, Mesir , Arab dan Persi atau Iran. Sesudah belajar di Negeri Pasai, Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang keJawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal sebagai Sunan Giri .

Sedang Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah diTuban. Dalam berdakwa Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.

Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya . Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat . Lebih –lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang Wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya . Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang, pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya . Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang – tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim.

Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran.Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran Islam kepada mereka.

Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam.Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.

Diantara tembang yang terkenal ialah :

“Tamba ati iku sak warnane,
Maca Qur’an angen-angen sak maknane,
Kaping pindho shalat sunah lakonona,
Kaping telu wong kang saleh kancanana,
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe,
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe,
Sopo wongé bisa ngelakoni, Insya Allah Gusti Allah nyemba dani.

Artinya :
Obat sakit jiwa ( hati ) itu ada lima jenisnya.
Pertama membaca Al-Qur’an dengan artinya,
Kedua mengerjakan shalat malam ( sunnah Tahajjud ),
Ketiga sering bersahabat dengan orang saleh ( berilmu ),
Keempat harus sering berprihatin ( berpuasa ),
Kelima sering berdzikir mengingat Allah di waktu malam,
Siapa saja mampu mengerjakannya, Insya Allah Tuhan Allah mengabulkan.

Hingga sekarang lagi ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jama’ah, baik di pedesaan maupun dipesantren. Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang. Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk .Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda . (Nederland )

Pada masa hidupnya, Sunan Bonang termasuk penyokong kerajaan Islam Demak, dan ikut membantu mendirikan Masjid Agung Demak. Oleh masyarakat Demak ketika itu, ia dikenal sebagai pemimpin bala tentara Demak. Dialah yang memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung sebagai panglima tentara Islam Demak.

Ketika Sunan Ngudung gugur, Sunan Bonang pula yang mengangkat Sunan Kudus sebagai panglima perang. Nasihat yang berharga diberikan pula pada Sunan Kudus tentang strategi perang menghadapi Majapahit. Selain itu, Sunan Bonang dipandang adil dalam membuat keputusan yang memuaskan banyak orang, melalui sidang-sidang ”pengadilan” yang dipimpinnya.

Misalnya dalam kisah pengadilan atas diri Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang. Lokasi ”pengadilan” itu sendiri punya dua versi. Satu versi mengatakan, sidang itu dilakukan di Masjid Agung Kasepuhan, Cirebon. Tapi, versi lain menyebutkan, sidang itu diselenggarakan di Masjid Agung Demak. Sunan Bonang juga berperan dalam pengangkatan Raden Patah.

Dalam menyiarkan ajaran Islam, Sunan Bonang mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ihya Ulumuddin dari al-Ghazali, dan Al-Anthaki dari Dawud al-Anthaki. Juga tulisan Abu Yzid Al-Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ajaran Sunang Bonang, menurut disertasi JGH Gunning dan disertasi BJO Schrieke, memuat tiga tiang agama: tasawuf, ussuludin, dan fikih.

Ajaran tasawuf, misalnya, menurut versi Sunan Bonang menjadi penting karena menunjukkan bagaimana orang Islam menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaannya kepada Allah. Para penganut Islam harus menjalankan, misalnya, salat, berpuasa, dan membayar zakat. Selain itu, manusia harus menjauhi tiga musuh utama: dunia, hawa nafsu, dan setan.

Untuk menghindari ketiga ”musuh” itu, manusia dianjurkan jangan banyak bicara, bersikap rendah hati, tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas nikmat Allah. Sebaliknya, orang harus menjauhi sikap dengki, sombong, serakah, serta gila pangkat dan kehormatan. Menurut Gunning dan Schrieke, naskah ajaran Sunan Bonang merupakan naskah Wali Songo yang relatif lebih lengkap.

Ajaran wali yang lain tak ditemukan naskahnya, dan kalaupun ada, tak begitu lengkap. Di situ disebutkan pula bahwa ajaran Sunan Bonang berasal dari ajaran Syekh Jumadil Kubro, ayahanda Maulana Malik Ibrahim, yang menurunkan ajaran kepada Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria.

Dikisahkan beliau pernah menaklukkan seorang pemimpin perampok dan anak buahnya hanya mempergunakan tambang dan gending. Dharma dan irama Mocopa,t Begitu gending ditabuh Kebondanu dan anak buahnya tidak mampu bergerak, seluruh persendian mereka seperti dilolosi dari tempatnya. Sehingga gagallah mereka melaksanakan niat jahatnya.

“Ampun ………. hentikanlah bunyi gamelan itu, kami tidak kuat !” Demikian rintih Kebondanu dan anak buahnya.

“Gending yang kami bunyikan sebenarnya tidak berpengaruh buruk terhadap kalian jika saja hati kalian tidak buruk dan jahat.”

“Ya, kami menyerah, kami tobat !Kami tidak akan melakukan perbuatan jahat lagi, tapi ………. “ Kebondanu ragu meneruskan ucapannya.

“Kenapa Kebondanu, teruskan ucapanmu !” ujar Sunan Bonang.

“Mungkinkah Tuhan mengampuni dosa-dosa kami yang sudah tak terhitung lagi banyaknya,” kata Kebondanu dengan ragu. “Kami sudah sering merampok, membunuh dan melakukan tindak kejahatan lainnya.”

“Pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja,” kata Sunan Bonang. “Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Penerima tobat.”

“Walau dosa kami setinggi gunung ?” Tanya Kebondanu.

“Ya, walau dosamu setinggi gunung dan sebanyak pasir dilaut.”

Akhirnya Kebondanu benar-benar bertobat dan menjadi murid Sunan Bonang yang setia. Demikian pula anak buahnya.

-------------------------------------

Pada suatu ketika juga ada seorang Brahmana sakti dari India yang berlayar ke Tuban. Tujuannya hendak mengadu kesaktian dan berdebat tentang masalah keagamaan dengan Sunan Bonang. Namun ketika ia berlayar menuju Tuban, perahunya terbalik dihantam badai. Walaupun ia dan para pengikutnya tidak berhasil menyelamatkan diri kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah tenggelam ke dasar laut. Di tepi pantai mereka melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat. Mereka menghentikan lelaki itu dan menyapanya. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkah dan menancapkan tongkatnya ke pasir.

“Saya datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan Bonang.”kata sang Brahmana.

“Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya lelaki itu .

“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan ,kata sang Brahmana .”Tapi sayang kitab –kitab yang saya bawa telah tenggelam kedasar laut .”

Tanpa banyak bicara lelaki itu mencabut tongkatnya yang menancap dipasir , mendadak tersemburlah air dari lubang tongkat itu, membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

“Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam kedasar laut?”Tanya lelaki itu.

Sang Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar miliknya sendiri. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapa sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

“Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?”tanya sang Brahmana

“Tuan berada dipantai Tuban !”jawab lelaki itu .Serta merta Brahmana dan para pengikutnya menjatuhkan diri berlutut dihadapan lelaki itu. Mereka sudah dapat mendiga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang sendiri.

Siapalagi orang sakti berilmu tinggi yang berada dikota Tuban selain Sunan Bonang . Sang Brahmana tidak jadi melaksanakan niatnya menantang Sunan Bonang untuk adu kesaktian dan mendebat masalah keagamaan, malah kemudian ia berguru kepada Sunan Bonang dan menjadi pengikut Sunan Bonang yang setia.

Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Saat akan dimakamkan, ada perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, karena sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ”mencuri” jenazah sang Sunan.

Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.

Adalagi legenda aneh tentang Sunan Bonang .

Sewaktu beliau wafat, jenasahnya hendak dibawa ke Surabaya untuk dimakamkan disamping Sunan Ampel yaitu ayahandanya . Tetapi kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak sehingga terpaksa jenazahnya Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu disebelah barat Masjid Jami ’Tuban.

dari berbagaai sumber

CMIIW

---------------------------------------------------------

Sholat dan Berdoa di Masjid Agung Tuban




Gerbang kedua ......... Makam Sunan Bonang




Gerbang Ketiga Makam Sunan Bonang ...


Makam Sunan Bonang






Pembentukan Wali Songo di jawa oleh Sayyid Jumadil Kubro

Ziarah ke makam Wali Jawa Timur





Pembentukan Wali Songo


Dalam pertemuannya dengan Sultan Muhammad I (Raja Turki saat itu) Sayyid Jumadil Kubro mengusulkan agar Sultan Muhammad I mengundang beberapa ulama’ dari wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang memiliki karomah besar untuk diajak musyawarah membahas kegiatan dakwah Islam dan pengembangannya di Pulau Jawa.

Setelah mendengar dan memperhatikan cerita pengalaman dan temuan Sayyid Jumadil Kubro tentang situasi dan keadaan agama Islam di daerah Pulau Jawa, akhirnya disepakati bahwa, untuk melakukan kegiatan dakwah ke Pulau Jawa ditunjuk dan ditugaskan 9 (sembilan) orang ulama’ (Auliya) dengan berbagai keahliannya masing”. Sembilan orang itu akan dibagi menjadi tiga bagian, Jawa Timur tiga orang ulama, Jawa Tengah tiga orang ulama, Jawa Barat itga ulama dengan masa bhakti satu abad, apabila terjadi ada yang wafat atau pindah dari Pulau Jawa harus mengadakan rapat untuk mencari penggantinya. Kesemblan ulama tersebut selanjutnya dilembagakan dan ditetapkan dengan sebutan WALI SONGO yang untuk pertama kalinya beranggotakan sembilan ulama:

1. Maulana Malik Ibrahim

lama dari Turki ahli Tata negara dan pengobatan, beliau berdakwah di Jawa Timur, wafat di Gresik tahun 119M.

2. Maulana Ishaq
Ulama dari Samarkhan beliau putra dari Sayyid Jumadil Kubro, ahli pengobatan, berdakwah di Jawa Imur, setelah tugas di Blambangan Banyuwangi beliau pindah ke Pasai. Menurut KH. Abdurrahman Wahid beliau wafat dan dimakamkan di Jombang di Jl. Garuda Dusun Tambak Beras, Desa Tambak Rejo Kecamatan Jombang (Jawa Timur).

3. Maulana Jumadil Kubro

Ulama dari Samarkhan Azarbaizhan, ahli militer dan beliau terkenal sebagai orang sakti, berdakwah di lingkungan Kerajaan Majapahit, wafat di Troloyo Mojokerto tahun 1465 M.

4. Maulana Ahmad Al Maghroby (Sunan Geseng)

Ulama dari Maroko Afrika Utara, beliau terkenal sebagai orang yg kuat dan sakti, berdakwah di Jawa Tengah, wafat di daerah Mojopahit dan di makamkan di pesantrennya Jati Anom Klaten 1465 M.

5. Maulana Malik Isroil
Ulama dari Turki ahli mengatur negara, berdakwah di Jawa Tengah, wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barattahun 1435 M.

6. Maulana Muhammad Ali Akbar

Ulama dari Persia (Iran) ahli Pengobatan dan pertanian berdakwah di Jawa Tengah, Wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barat tahun 1435 M.

7. Maulana Hasanudin
Ulama dari Palestina, berdakwah di Jawa Barat dan beliau terkenal sebagai orang sakti, wafat tahun 1462 M, dimakamkan di samping Masjid Banten Lama.

8. Maulana Alayudin
Ulama dari Palestina, berdakwah di Jawa Barat, wafat tahun1462 M, dimakamkan di samping masjid Banten Lama.

9. Syech Subakir

Ulama dari Persia (Iran) ahli supranatural (tumbal tanah angker/mengusir Jin, syetan, Gendruwo dsb. Tugasnya di P. Jawa dan belia kembali ke negerinya, Persia tahun 1462 setelah tugasnya selesai.

Dari sembilan ulama (wali Songo) generasi pertama ini yg ditunjuk sebagai pemimpin atau Mufti adalah Maulana Malik Ibrahim yg bertempat tinggal di Gresik.
Sembilan Wali ini diberangkatkan oleh Sultan Muhammad I dari Turki pada tahun 1404 M dengan mengendarai kapal dagang dan membawa barang dagangan.

-------------------------------------

Wali SONGO Periode II

1.Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) beliau menggantikan Maulana Malik Ibrahim yg wafat pada tahun 1419 M, dan dimakamkan di Gresik. Beliau menjadi Mufti Wali Songo selama 15 tahun
2. Maulana Iskhak (TETAP)
3. Maulana Jumadil Kubro (Tetap)
4. Maulana Muhammad Almaghribi (Sunan Geseng) (Tetap)
5. Sayid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus)
Beliau menggantikan Maulana Malik Isro’il yg telah wafat pada tahun 1435 M, beliau menjadi anggota Wali Songo selama 31 tahun dan dimakamkan di Gunung Santri Cilegon Jawa Barat.
6. Sayid Sarif Hidayatulloh (Sunan Gungung Jati).
Beliau menggantikan Maulana Ali Akbar yg telah wafat pada tahun 1435 M dan beliau dimakamkan di Gunung Santri Cilegon Jawa Barat. Beliau menjadi anggota Wali Songo selama 31 tahun.
7. Maulana Hasanudin (Tetap)
8. Maulana Aliyudin (Tetap)
9. Syeh Subakir (Tetap)

Rapat ini di selenggarakan di Ampel, Surabaya, mengangkat Sunan Ampel sebagai Mufti dari Wali Songo. Banyak Adipati dan Pembesar dari Majapahit yg hadir, bahkan Prabu Kartawijaya juga ikut hadir dan mendukung Sunan Ampel.

---------------------------------------------

Walisongo Periode III


1. Sayid Rahmatulloh (Sunan Ampel) Tetap
2. Raden Paku (Maulana Ainul Yakin) (Sunan Giri) anaknya Maulana Iskhak dengan Ibu Dewi Sekardadu Blambangan, beliau mengantikan ayahnya Maulana Iskhak karena pindah ke Pasai.
3. Maulana Jumadil Kubro (Tetap)
4. Maulana Muhammad Almaghribi (Sunan Geseng) tetap
5. Sayid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Tetap
6. Sayid Sarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) tetap
7. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Beliau anak Sunan Ampel menggantikan Maulana Hasanudin yg wafat pada tahun 1462 Masehi, beliau dimakamkan di di samping Masjid Banten Lama. Beliau menjadi anggota Wali Songo selama 58 Tahun.
8. Raden Qosim (S. Drajat). Beliau anak Sunan Ampel mengantikan Maulana Aliyudin dari Palestina wafat tahun 1462. Beliau dimakamkan di samping mMasjid Banten Lama. Beliau menjadi anggota Wali Songo selama 58 tahun.
9. Raden Said (Sunan Kalijaga) anak adipati Wilatikta Tuban menggantkan Syeh Subakir yg kembali ke negaranya Persia karena tugasnya sudah selelsai. Beliau menjadi anggota Wali Songo selama 59 tahun.

------------------------------------------------

WALISONGO PERIODE IV
1. Sayid Ali Rahmatullaoh (Sunan Ampel) tetap
2. Raden Paku (Ainul Yaqin) nama kecilnya Joko Samudro (tetap)
3. Raden Hasan (Raden Patah) menggantikan Sayid Jumadil Kubro yg wafat pada tahun 1465M.
4. Raden Umar Said (Sunan Muria) menggantikan Maulana Muhammad AL Maghribi yg wafat pada tahun 1465M.
5. Sayid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Tetap
6. Fatkullah khan atau biasa disebut orang Faletehan. Beliau menggantikan ayahnya Sarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yg sudah terlalu tua.
7. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) tetap
8. Maulana Alayuddin (tetap)
9. Radden Said (Sunan Kalijaga) tetap

------------------------------------------------

WALISONGO PEROIODE V 1479M
1. Raden Paku (Ainul Yakin) atau biasa dikenal dengan Sunan Giri (Tetap)
2. Raden Patah (Raden Hasan) Tetap
3. Raden Umar Said (Sunan Muria)tetap
4. Sayid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Tetap
5. Fatkhullah Khan atau disebut Faletehan (Tetap.
6. Radn Ma’dum Ibrahim (Sunan Bonang) tetap
7. Raden Qosim (Sunan Drajat) anaknya Sunan Ampel (Tetap)
8. Raden Said (Sunan Kalijaga) Tetap
9. Syeh Siti Jenar menggantikan Sayid Ali Rahmatullaoh (Sunan Ampel) yg telah wafat pada tahun 1478 M.

------------------------------------------------

WALISONGO
Setelah periode V tidak ada rapat pembentukan lagi.
Masyarakat luas memahami anggota Wali Songo berranggotan sembilan orang hanya beliau” ini:
1. Maulana Malik Ibrahim (Gresik)
2. Maulana Ali ohmatullah (Sunan Ampel)
3. Maulana Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang)
4. Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri)
5. Raden Qosim (Sunan Drajat)
6. Raden Umar Said (Sunan Muria)
7. Syayid Jakfar Sodiq (Sunan Kudus
8. Raden Said (Sunan Kalijogo)
9. Sayid Sarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Sumber: Punjer Wali Songo
Sejarah Sayyid Jumadil Kubro

CMIIW (Mohon dikoreksi bila ada kesalahan)


------------------------------------------


Makam Sunan Cendana kwanyar bangkalan

nama aslinya adalah Syaikh Zainal Abidin atau lebih terkenal dengan nama Sunan Cendana merupakan keturunan ke 25 dari Nabi Muhammad SAW, cucu dari Sunan Drajat yang .terletak di sebelah barat masjid Jami' Kwanyar kira-kira 200 m.makam ini cukup ramai dikunjungi oleh peziarah lokal maupun nasional apalagi menjelang puasa Ramadhan hari ke21 dan hari ke27.bila anda ingin info terlengkap tentang kisah Sunan Cendana anda dapat menjumpai kiai Badrusz sholeh (pengasuh PP.Miftahut Tholibin) atau Kiai Hannan Nawawie Fadlie (pengasuh PP.Darul fatwa) sebagai juru kunci sekaligus sesepuh desa Kwanyar.

Jumat, 10 Agustus 2012

Kisah Datuk Ibrahim Penyebar Islam di Bali dan Banyuwangi

Makam Datuk Abrahim Bauzir adalah makam yang paling dikeramatkan di Banyuwangi, Jawa Timur. Makam ini berada di 3 kilometer arah utara kota Banyuwangi atau tepatnya Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Lateng.

Saat Ramadan, makam ini tak pernah sepi dari peziarah. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia baik Jawa, Kalimantan hingga Aceh. Berbagai macam niatan mereka, mulai berdoa untuk meminta kesembuhan, kesuksesan dan rejeki.

Kompleks makam menempati area hampir satu hektare di daerah yang dulunya bernama Kampung Arab. Di halaman depan dan belakang tersebar puluhan makam kerabat dan sahabat Datuk. Makam Datuk sendiri berada di ruangan khusus sebelah utara kompleks.

Dalam ruangan khusus seluas 5x7 meter itu, Datuk Bauzir dimakamkan. Tirai tipis menutupi nisannya yang berkeramik putih. Makam Datuk diapit makam putranya, Syekh Ahmad, dan sahabatnya, Sayyid Hasan.

Abdul Munif, 36 tahun, keturunan keenam Datuk Bauzir, menceritakan Datuk Bauzir merupakan bangsawan asal Yaman keturunan Bani Hasyim. Ia adalah wali besar yang berperan dalam menyebarkan Islam di Banyuwangi serta di Loloan, Jembrana, Bali.

Datuk datang ke Nusantara, kata Munif, sekitar tahun 1770 dan transit di Banyuwangi yang dulunya bernama Blambangan. Datuk kemudian memilih siar Islam ke daerah Loloan, Bali, karena penduduk daerah ini mayoritas masih beragama Hindu. "Sekarang di Loloan mayoritas warganya beragama Islam," katanya.

Saat di Loloan, Datuk menikahi gadis setempat bernama Zaenab. Dari perkawinan tersebut lahirlah dua putra bernama Syekh Sayyid Bakar Bauzir dan Datuk Ahmad. Namun, putra sulungnya meninggal terlebih dahulu yang kemudian disusul istrinya. Keduanya dimakamkan di Loloan.

Setelah kepergian istri dan anaknya, Munif menjelaskan, Datuk kemudian pindah ke Banyuwangi dengan mengajak anak keduanya bersama sahabatnya, Sayyid Hasan, pada 1840. Datuk meneruskan siar Islam di Banyuwangi semasa Banyuwangi dipimpin Bupati Pringgokusumo. "Saat itu di Banyuwangi juga masih banyak yang beragama Hindu," katanya.

Datuk tinggal di Kampung Arab yang saat kedatangannya sudah ada ratusan orang Arab yang tinggal. Mereka kebanyakan juga berasal dari Yaman. "Pada 1876 atau pada usia 86 tahun, Datuk tutup usia," kata lelaki yang juga bertugas sebagai penjaga makam.

Makam Datuk dikeramatkan hingga kini karena cerita kesaktian Datuk terus menjadi cerita turun-temurun. Menurut Munif, dulunya setiap hari Datuk selalu salat Duha di atas laut yang berada di ujung Kampung Arab.

Makam Nyai Sarifah Ambani Air Mata Ratu Ibu, Lebih dari Kisah Cinta Biasa

Salah Satu Pintu Di Makam Air Mata Ratu Ibu

 Ada banyak cerita yang menggambarkan cinta seorang wanita atau seorang ibu di Indonesia, salah satunya adalah Makam Air Mata Ratu Ibu di Madura. Percayalah, Anda akan lebih menghargai perasaan kaum perempuan setelah berkunjung ke tempat ini.

Makam Air Mata Ibu berada di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Hanya berjarak 11 km dari Kota Bangkalan, yang menjadi gerbang masuk Pulau Madura. Anda harus menempuh puluhan anak tangga untuk sampai ke makam ini. Sebab, Kompleks Makam ini terletak di puncak bukit kecil pada ketinggian 30 mdpl.

Ratu Ibu adalah seorang wanita yang bernama Sarifah Ambani. Wanita keturunan dari Sunan Giri ini adalah seorang istri yang sangat taat, patuh dan sangat mencintai suaminya, Raja Cakraningrat. Raja Cakraningrat adalah seorang raja yang sangat dihormati dan diagungkan oleh masyarakat Madura pada saat itu. Raja Cakraningrat memimpin Madura pada tahun 1624 atas perintah Sultan Agung dari Mataram.

Raja Cakraningrat terkenal akan kepandaiannya, kepawaiannya, dan tenaga yang kuat untuk menjadi seorang pemimpin. Maka, Sultan Agung Mataram membutuhkan jasa Raja Cakraningrat untuk membantunya membangun Mataram. Sehingga, Ratu Ibu sering ditinggal oleh suami tercintanya. Perasaan sedih pun melanda Ratu Ibu, walaupun istri seorang raja, tapi hatinya adalah hati wanita biasa. Hampir siang malam beliau sedih karena ditinggal suaminya bertugas ke Mataram.

Ratu Ibu memilih untuk bertapa ketika perasaan sedih mengguncang dirinya. Dalam pertapaannya, Ratu Ibu meminta kepada Yang Maha Kuasa agar suaminya tetap sehat dan agar kelak tujuh turunannya bisa menjadi pemimpin dan penguasa Madura.

Hingga suatu hari saat Raja Cakraningrat pulang ke Madura, perasaan Ratu Ibu pun berbunga-bunga. Selain senang karena suaminya pulang, Ratu Ibu juga bercerita dirinya bertapa dan berdoa agar tujuh keturunanya menjadi pemimpin Madura. Namun, bukannya rasa senang atau pun pujian yang diucapkan oleh Raja Cakraningrat, tetapi justru kemarahan dan kekecewaan. Raja Cakraningrat kesal karena istrinya hanya berdoa agar tujuh turunannya yang menjadi raja. Sebab, Raja Cakraningrat ingin semua keturunannya menjadi pemimpin Madura.

Mendengar hal tersebut Ratu Ibu pun sedih dan merasa bersalah. Saat suaminya kembali ke Mataram untuk bertugas, Ratu Ibu kembali ke pertapannya di Desa Baduran. Saat bertapa Ratu Ibu terus menangis tanpa henti, hingga konon air matanya membanjiri tempat pertapannya. Hal tersebut terus berlangsung hingga beliau wafat.

Di Desa Baduran tidak hanya terdapat makam Ratu Ibu. Di sana juga terdapat makam Raja Madura dari abad ke-16 hingga ke abad ke-19. Konon makam raja tersebut adalah tujuh turunan dari sang Ratu Ibu. Selain nilai sejarah yang tinggi, keunikan seni arsitektur pada makam dan beberapa pahatan batu di sekitar makam menjadikan suasana makam ini begitu sakral dan mistis. Tidak sedikit pula traveler datang ke tempat ini untuk berwisata ziarah.

Dengan berkunjung ke Makam Ratu Ibu, bagi para wanita akan mendapatkan pelajaran tentang pengorbanan dan rasa iklhas sebagai seorang istri. Serta bagi para pria, Anda akan lebih belajar dan lebih menghargai tentang perasaan dan hati seorang wanita.

 

Senin, 02 Juli 2012

Daftar Makam AuliyaDi Kediri dan Auliya di Nusantara

Makam Ulama di Kediri.
1. Syaikh Abdul Qodir Al Khairi (Tambak Ngadi Kediri)
2. Syaikh Abdullah Sholeh (Tambak Ngadi Kediri)
3. Syaikh Muhammad Hirman (Tambak Ngadi Kediri)
4. Syaikh Hamim Jazuli (Tambak Ngadi Kediri)
5. Mbah Kyai Anis Ibrahim (Tambak ngadi Kediri)
6. Mbah Kyai Ahmad Sidiq (Tambak Ngadi Kediri)
7. Syaikh Usman (Temayan Kediri)
8. Mbah Kyai Jazuli Usman (Ploso Kediri)
9. Kyai Munif Jazuli
10. Mbah Kyai Jamaludin (Batokan Kediri)
11. Mbah Kyai Anwar (Pethuk Kediri)
12. Mbah Kyai Abdul Karim (Lirboyo Kediri)
13. Mbah Kyai Marjuki (Lirboyo Kediri)
14. Mbah Kyai Makhrus ‘Ali (Lirboyo Kediri)
15. Mbah Kyai Abdul Majid (Kedunglo Kediri)
16. Mbah Kyai Mubasyir Mundzir (Mangunahsari Kediri)
17. Syaikh Sholeh (Banjar Melathi Kediri)
18. Syaikh Hasan Besari (Kauman Kediri)
19. Syaikh Samsudin (Sentono Gedong Kediri)
20. Syaikh Abdullah Mursyad (Sentono Landeyan Kediri)
21. Syaikh Ihsan Jampes (Mutih Kediri)
22. Mbah Kyai Dahlan (Mutih Kediri)
23. Mbah Kyai Misbah (Mojoroto Kediri)
24. Kyai Imam Yahya (Mojoroto Kediri)
25. Mbah Hasan Munshorif (Adan adan Kediri)
26. Kyai Zamroji (Kencong Kediri)
27. Mbah Kyai Faqih (Sumbersari Kediri)

 

Aulia was Sholihin di Nusantara

Auliya’ut Tis’i:
Syaikh Maulana Malik Ibrahim, Kota Gresik.
Kanjeng Sunan Ampel (R. Rahmat) Ampel Semampir – Surabaya.
Kanjeng Sunan Giri (‘Ainul Yaqin) Kebomas Gresik.
Kanjeng Sunan Bonang (R. Makhdum) Kutorejo, Kota Tuban.
Kanjeng Sunan Drajad (R. Qosim) Drajad, Paciran Lamongan.
Kanjeng Sunan Muria (Umar Said) Muria, Dawe Kudus.
Kanjeng Sunan Kudus (Ja’far Shoddiq) Menara, Kota Kudus.
Kanjeng Sunan Kalijaga (R. Syahid) Kadilangu, Kota Demak.
Kanjeng Sunan Gunungjati (Syarif Hidayatullah) Astana Gunungjati Cirebon.

Maqbaroh Tambak Ngadi Kediri:
1. Syeikh Maulana Abdul Qodir Khoiri
2. Syeikh Maulana Abdullah Sholih Istambul
3. Syeikh Muhammad Hirman Arruman
4. KH. Anis Ibrahim
5. KH. Ahmad Siddiq
6. Kyai Bani’askar
7. KH. Hamim Djazuli (Gus Miek)
8. KH. Imam Thoha
9. KH. Yasin Yusuf
10. Kyai Ma’ruf Alhafidh
11. KH. Muslim Hanan
12. KH. Rochmad Zuber
13. Letda. Akhyar
14. M. Asmu’i
15. Nyai Hj. Mardliyah
16. Kyai Hamzah
17. Kyai Imam Nawawi
18. Kyai Imam As’ari.

Auliya’ was Sholihin fi Jawa as-Sarqiyyah:
19. Sunan Malaka Daleman Gelis Bangkalan
20. Mbah Saniyah Batuampar Madura
21. Kyai Abu Syamsuddin Batuampar Sampang Madura
22. Kyai Ahmad (Joko Tole) Sumenep Madura
23. Syech Kholil Batuampar Bangkalan Madura
24. Sayyid Yusuf Sumenep Madura
25. Sayyid Abdurrohman Galis Cleret Madura
26. Sayyid Syaifuddin Bangkalan Martajasa Madura
27. Nyai Syarifah Ambamy Bangkalan Air Mata Ibu Madura
28. Sunan Cendana (Sayyid Zainal Abidin) Kwanyar Sumenep Madura.
29. Datuk Ibrahim Lateng Banyuwangi
30. Sayyid Ahmad Lateng Banyuwangi
31. Syech Abdurrahman Lateng Banyuwangi
32. Habib Hadi Alhadad Ketapang Banyuwangi
33. Syech Muhajar Bendo Pare Kediri
34. Kyai Abdullah Mun’im Kemayan, Ngadi, Mojo Kediri
35. Kyai Abd. Basyir Kemayan, Ngadi, Mojo Kediri
36. Kyai Abd. Hasyim Kemayan, Ngadi Mojo Kediri
37. Habib Moh. Thohir Baabud Pelem, Mojo Kediri
38. Kyai Yahya Baran, Mojo Kediri
39. Kyai Imam Maki Karangkates, Mojo Kediri
40. Kyai Jazuli Usman Ploso, Mojo Kediri
41. Kyai Abdul Jalil (Joyo Ulomo) Mojo Kediri
42. Kyai Abd. Jamal Batokan, Mojo Kediri
43. Kyai Abd. Hamid Randulawang Kediri
44. Kyai Ma’sum Randulawang Kediri
45. Kyai Abubakar Bandarkidul Kediri
46. Kyai Munir Bahri Bandarkidul Kediri
47. Kyai Ali Ma’lum Bandar Mlati Kediri
48. Kyai Abd. Majid Kedunglo Kediri
49. Kyai Ma’ruf Kedunglo Kediri
50. Kyai Marzuqi Lirboyo Kediri
51. Syech Mahrus Ali Lirboyo Kediri
52. Syech Abd. Manaf Karim Lirboyo Kediri
53. Kyai Ya’qub Lirboyo Kediri
54. Kyai Sulaiman Washil Setonogedong Kediri
55. Kyai Jumadil Kubro Mbetek Kediri
56. R. Syarifuddin Mangkuyudo Mbetek Kediri
57. Kyai Jakfar Umaiyah Darmoyudo Mbetek Kediri
58. Kyai Abdulqodir Setonogedong Kediri
59. Kyai Abdullah Mursyad Setonolandean Kediri
60. Kyai Dahlan Mutih, Jampes Kediri
61. Nyai Ujang Sholih Mutih Jampes Kediri
62. Syech Ikhsan Mutih, Jampes Kediri
63. Gus Baji Mutih, Jampes Kediri
64. Kyai Abdullah Umar Sumberdringo Kediri
65. Kyai Badrussholih Purwosari Kediri
66. Kyai Dimyati Wlingi Blitar
67. Kyai Kholil Nggebongan Blitar
68. Kyai Abd. Ghofur Mantenan Blitar
69. Kyai Ahya’ Kunir Srengat Blitar
70. Syech Subaqir Penataran Blitar
71. Kyai Imam Hambali bin Ahmad Cemandi, Kunir Blitar
72. Presiden Soekarto Kota Blitar
73. Kyai Hamid M (Minak Lelono) Padangan Bojonegoro
74. Kyai As’ari Keras Tebuireng Jombang
75. Kyai Mursidin Mojoagung Jombang
76. Kyai Alif Mojoagung Jombang
77. Syech Sulaiman bin Dawud Mojoagung Jombang
78. Kyai Daman Huri Betek Mojoagung Jombang
79. Sunan Ngudung Mojoagung Jombang
80. Syech Tamim Irsyad Pajaran Peterongan Jombang
81. Syech Hasyim As’ari Tebuireng Jombang
82. Syech Romli Tamim Rejoso Peterongan Jombang
83. Syech Musta’in Romli Rejoso Peterongan Jombang
84. Syech Rifa’i Romli Rejoso Peterongan Jombang
85. Syech Sonhaji Romli Rejoso Peterongan Jombang
86. Syech Umar Tamim Rejoso Peterongan Jombang
87. Nyai. S Fatimah Leran Manyar Gresik
Sunan Prapen Klangonan Kebomas Gresik
Habib Abu Bakar Jl. Kauman Kota Gresik

88. Ario Wiratnudatar Cukundul Cikalong W Cianjur
Dzatul Kahfi Astana Gunungjati Cirebon
Mbah Imam Hanafi Astana Gunungjati Cirebon
Raden Fatah Bintoro Kota Demak
Kyai Abdulhadi Giri Kusumo Mranggen Demak
R. Kian Santang Suci Godoa Garut
Ki Ageng Selo (Kyai Kholil) Purwodadi Grobogan
Kyai Ganjur Sirojuddin Gubug Purwodadi Grobogan
Habib Khuzen Luar Batang pasar Ikan Jakarta Utara
Kyai Abdul Aziz Tempurejo Jember
Kyai Siddiq Condro Jember
Habib Sholeh bin Muhsin Tanggul Jember
Syech Abu Bakar Pulau Panjang Jepara
Syech Usman haji Benteng Pulau Mondoliko Jepara
Sultan hadirin Mantingan Jepara
Kyai Dimyati Sukri Demeling Mlonggo Jepara

89. Syech Maulana Magrobi Wodobodro Batang
90. Ki Ageng Gringsing Gringsing Batang
91.Syech Izroil Gunung Santri, Cilegon Banten
92. Syech Hassanudin Banten Lama Banten
93. Syech Mansyur Cikaduwen kramat Pandeglang Banten
94. Syech Asnawi Caringin Banten
95. Sulatan Hasanuddin Banten Kasemen Serang Banten
96. Syech Yusuf bin Hasanuddin Kasemen Serang Banten
97. Sayid Ali Alhadad Banjarmasin

Syech Qurrotulain Pulaubata Wuadas Karawang
Kyai Singaperbangsa Leran Wuadas Karawang
Sunan Nyamplungan (Syech Amir Hasan) Karimunjawa Karimunjawa
Kyai Hasan Nawawi Jabalekat Tembayat Klaten
Kyai Dardari (R.R. Warsito) Palar Klaten
Syech Abu Hasan Sadzali Ngejenu Dawe Kudus
Kaliyetno Ternadi Dawe Kudus
Kyai Arwani Bulu Kudus
Syech Maulana Mansur Sendang Duwur Paciran Lamongan
Syech Tubagus Ali Menggala Tulang Bawang Lampung
Kyai Anom Besari Grabahan Kuncen Mejayan Caruban Madiun
Kyai Abiyoso Pertapaan Ngukiran Awangrejo Caruban Madiun
Sunan Geseng Tirto, Grabag Magelang
Pangeran Pekik Gunung Andong, Tirto Magelang
Syech Abu yamin Tejo, Belang, Grabag Magelang
Kyai Jogoreso (Goes. Jogo) Gunungpring Watucongol Magelang
Syech Subakir Tidar Magelang
Kyai Hasan as’ari Mangli Magelang
Raden Santri Gunungpiring Watucongol Magelang
Syech Ma’sum Pondok Salaman Magelang
Syech Abd. Hamid Kajoran Magelang
Kyai Dulngadim Baidowi Ngantang Malang
Kyai Zakaria (Mbah Njugo) Gunung Kawi Malang
Kyai Imam Sujono Gunung Kawi Malang
Syech Jumadil Qubro Trowulan Mojokerto
Syech Fatahillah Mangunsari Nganjuk
Kyai Mahfud Khoin Ampel, Ngliman Nganjuk
Kyai Nur Kholifah Sitores, Sawahan Nganjuk
Kyai Amir Mahmud Ngliman Nganjuk
Kyai Mustajab Gompol, Prambon Nganjuk
Sayid Abu Khoiri Patihan Rowo Sawalan, Pakuncen Nganjuk
Kyai Zaenuddin Mojosari Nganjuk
Kyai Mughofar Mantenan Pacitan
Syech Maulana Mansyur Cikaduen Cikaduen Pandeglang
Syech Asnawi Ciwaringin Lubuhan Pandeglang
Syech Abd. Hamid Jl. Jawa , Kota Pasuruan
Habib Jafar bin Syaikhthon Assegaf Pasuruan
Syech jangkung Landoh Kayen Pati
Sunan Prawoto Prawoto Sukolilo Pati
Kyai Ahmad Mutamakin Kajen Margoyoso Pati
Kyai Ronggo Kusumo Ngemplak Margoyoso Pati
Ki Ageng Giringan Pundenrejo Tayu Pati
Kyai Sholeh amin Tayu Pati
Habib Alwy Ahmad Ba Alawy Pungel Pati
Habib Mahdum Alathos Pungel Pati
Haji Nur Asnawi Muga Bating Walang Songo Pemalang
Kyai Ahmad M. Abdullah Muga Bating Walang Songo Pemalang
Betoro Katong Ponorogo
Syech Hasan Besari Tegalsari Ponorogo
Kyai Hasan Anom Jetis Ponorogo
Kyai Nur Hasan Genggong Probolinggo
Mbah Mustoleh Sidaraja Purwokerto
Kyai Imam Setubun Sarang Rembang
Syech Hamzah Nlapan Sedan Rembang
Kyai Sambu Dekdo Lasem Rembang
Kyai Ma’sum Lasem Rembang
Kyai Abdurohman Basaiwan Lasem Rembang
Syech Kholil Kasingan Rembang
Datuk Abdullah Batam Riau
Syech Abdurrahman(Abdullah Selomanik) Kalilembu Wonosobo
Syech Sabaruddin sendangdalem Wadaslintang Kebumen
Gunung Ungaran Ungaran Semarang
Kyai Sholeh Gunung Berguto Semarang
Sunan Katong Kaliwungu kendal Semarang
Kyai Musyafak Kaliwungu kendal Semarang
Kyai Sholeh Darat Bergoto Pajang Kota Semarang
Kyai Muntoho bin Zarkasi Krian Sidoarjo
Syech Mas’ud (Goes. ‘Ud) Pagerwojo Sidoarjo
Kyai Syarif Kedung Gudel Kenep Solo
Ki Ageng Anis Laweyan Solo
Mbah Hasan Miwar Gading Solo
Hadi Wijoyo (Joko Tingkir) Mbutuh Plupuh Sragen
Pangeran Samodro Gungung kemukus Sumberlawang Sragen
Sayid Mansyur Pasarturi Surabaya
Kyai Djazuli bin Mursad Pasarturi Surabaya
Kyai Abu Hasan Manunggal Surabaya
Kyai Maulana A. bin Karimah Kembang Kuning Surabaya
Mbah Sonhaji Ampel Surabaya
Mbah Sholeh Ampel Surabaya
Kyai Ageng Bungkul Darmo Wonokromo Surabaya
Syech Abdul Muhyi Suparwadi Pamijahan Tasikmalaya
Syech Magrobi Petarukan Tegal
Kyai Begawan Turesmi Santren Trenggalek
Kyai Abd. Hamid Ngantru Trenggalek
Kyai Mas’uibarean Panggul Trenggalek
Kyai Boedowi Hudoyono Gunungcilik, Nggador Trenggalek
Kyai Yahudo Nglorok, Pacitan Trenggalek
Kyai Mesir Semarum, Durenan Trenggalek
Kyai Nurmuzdalifah Santren Trenggalek
Kyai Nurkholifah Sumber, Karangan Trenggalek
Kyai Ahmad Yunus Kamulan, Gunungcilik Trenggalek
Syech Asmoro Qondi Gesik Harjo Palang Tuban
Kyai Mahmudin As’ari Bejagung Semanding Tuban
Kyai abdul Jabbar Nglirip Singgahan Tuban
Kyai Punjul Nglepon Jatirogo Tuban
Kyai Abd. Fatah Hasan Tholabi Mk. Mangunsari Tulungagung
Kyai Noeryahman Mk. Bakalan Tulungagung
Kyai Doel ‘Adhim Betoran Tulungagung
Kyai Mansyur Tsani Tawangsari Tulungagung
Kyai Moh. Syarif Majan Tulungagung
Kyai Hasan Mimbar Majan Tulungagung
Kyai Langkir Winong Tulungagung
Kyai Khusen Mk. Kedung Sangkal Tulungagung
Kyai Hasan bin Ahmad Ngadirogo, S. Gempol Tulungagung
Kyai Maddhali Tawangsari Tulungagung
Kyai Abd. Aziz bin Taruno Sumur Warak, Ngunut Tulungagung
Kyai Basyaruddin Srigading, Kalangbret Tulungagung
Kyai Mansoer Bancaan, Mj. Sari, Kalangbret Tulungagung
Kyai Abd. Hamid bin Ahmad Sumput, B. Rejo Tulungagung
Kyai Gozali Kauman, Kalangbret Tulungagung
Kyai Mustaham Bancaan, Kalangbret Tulungagung
Imam Hambali bin Rohmad Karangwaru Tulungagung
Kyai Mustaqin Kauman, Kalangbret Tulungagung
Kyai Hasan Mimbar Kauman, Kalangbret Tulungagung
Sunan Kuning (Imam Hanafi) Macan Bang, Gondang Tulungagung
Kyai Abu Sujak Cepean, Sembung Tulungagung
Kyai Hasan Anom As’ari Kalituri Tulungagung
Kyai Jauhari Mahmud Notorejo Tulungagung
Kyai Abdullah Fatah (Surontani) Tanggung, Boyolangu Tulungagung
Kyai Mundir Badrawi Campurdarat Tulungagung
Kyai R. Fatah bin Qosim Bedalem Tulungagung
Kyai Toermudi bin Munir Bedalem Tulungagung
Kyai Abuyusak bin Rokib Bangunmulyo, Pakel Tulungagung
KH. Dimyati Campurdarat Tulungagung
Sayid Mursad Campurdarat Tulungagung
Syech Guruwali (Nurhidayatullah) Popoh Tulungagung
Kyai mahmud bin Tohir Bangunmulyo, Pakel Tulungagung
Kyai Abuhasan bin Rowi Bangunmulyo, Pakel Tulungagung
Syech Wahyuddin Baidlowi Pojok Tulungagung
Kyai Zakarsi bin Mahfud Gadingan, Sembung Tulungagung
Kyai Kurdi bin Hudoyono Tanijayan, Bolorejo Tulungagung
Kyai Maulana Klampisan, Gondang Tulungagung
Kyai Hasan Anom Keboireng, Besuki Tulungagung
Wali Somu Gedongan, Combor Tulungagung
Kyai Wonosegoro (Setran Gondomayit) Sine, Kalipasir Tulungagung
Petilasan Wonogiri Kayangan Tirtomoyo Wonogiri
Sutowijoyo (P. Senopati) Kota Gede Yogyakarta
LM. Sujono (HB. Awal) Imogiri Yogyakarta
Syech Jumadil Qubro Gunung Turgo Kaliurang Yogyakarta
Sultan Agung Imogiri Yogyakarta
Syech Ahmad Almaghrobi Jati Anom Yogyakarta
Kyai Ashari Lempuyangan Yogyakarta
Kyai Munawir Kerapyak Yogyakarta
Kyai Nuriman Mlangi Yogyakarta
Kyai Ahmad Dardiri Lepunyangan Yogyakarta
Syech Dalhari Gunungpring Watucongol Magelang
Syech Fajarrozi Bulu Salaman Magelang
Ki. P. Poerwonegoro – Purwosari Tretep Temanggung
2. Ki Trenggono – Muneng, Candiroto, Temanggung
3. Ki Abdullah – Nglarangan, Parakan, Temanggung
4. Ki Pandanaran – Bejen, Jumo, Temanggung
5. Ki Kendel Wesi – Jlapa, Kedu, Temanggung
6. Ki Prabu – Muncar, Parakan , Temanggung
7. Ki Prabu Makukuan – Kedu, Tretep, Temanggung
8. Ki Yahya – Parakan, Temanggung
9. Ki Dendo Yudo – Purwosari, Temanggung
10.Ki Rasyidi – Growo, Sukorejo, Temanggung
11.Ki Ageng Murhammad – Kranggan, Temanggung
12.Ki Ageng Bale – Balekerso, Kramat, Temanggung
13.Ki Ageng Krapyak- Gempol Temanggung
14.Syeh Sulaiman – Bojonegoro, Kedu, Temanggung
15.Syeh Patris – Bojonegoro, Kedu, Temanggung

SEKILAS SEJARAH MAKAM SYEKH QURO


Makam Waliyullah Syekh Qurotul’ain,terletak di Kampung Pulobata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Karawang.bangunan yang berdiri megah itu,pada saat sekarang menjadi tempat berkunjung

Para penziarah dan PARIWISATA RELIGIUS dari berbagai pelosok Nusantara.mereka datang,khususnya setiap Jum’at malam Sabtu atau sering,orang-orang menyebutnya istilah Sabtuan.Karamat Pulobata adalah,Situs sejarah Isalam yang merupakan asset kabuapten karawang dalam bab Paraiwisata dan menjadikan suatu aset penting dan berharga bagi desa Pulobata yang utama.

Konon kabarnya,Ulama besar yang bergelar Syekh Qurotul’ain dengan nama aslinya Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin.beliau adalah seorang yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ualam yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya.Syekh Quro adalah putra ulama besar Mekkah,penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali Ra.dan Siti

Fatimah putri Rosulullah SAW.


Pada waktu itu tanah Jawa masih dibawah kekuasaan Negeri Pajajaran dan masih menganut agama Hindu,dengan seorang Raja yang bernama Prabu Anggalarang,Kekuasannya pabu tersebut meliputi wilayah Karawang.sebelumnya datang ke tanah Karawang sekitar tahun 1409 Masehi,Syekh Quro menyebarkan Agama islam di negeri Campa berawal ,lalu ke daerah Malaka dan dilanjutkan ke daerah Martasinga Pasambangan dan Japura akhirnya sampai ke Pelabuhan Muara Jati Cirebon.disini beliau disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati,yang masih keturunan Prabu Wastu Kencana dan, oleh masyarakat sekitar.mereka sangat tertarik dengan ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro yang di sebut ajaran agama Islam.


Penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh syekh Quro di tanah Jawa,rupanya sangat mencemaskan raja Pajaran Prabu Anggalarang,sehingga pada waktu itu,penyebaran agama Islam agar dihentikan.Perintah dari Raja Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syeh Quro.namun,kepada utusan dari Raja Pajaran

yang mendatangi Syekh Quro,beliau mengingatkan,meskipun ajaran agama Islam dihentikan penyebarannya tapi kelak, dari keturunan Prabu Anggalarang akan ada yang menjadi seorang Waliyullah.


Beberapa saat kemudian beliau pamit pada Ki Gedeng Tapa untuk kembali ke negeri Campa,di waktu itu pula Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang,untuk ikut dan berguru pada Syekh Quro.Tak lama kemudian Syekh Quro datang kembali ke negeri Pajajaran beserta Rombongan para santrinya,dengan menggunakan Perahu dagang.dan serta didalam rombongan adalah,Nyi Mas Subang Larang,Syekh Abdul Rahman.Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.


Setelah Rombongan Syekh Quro melewati Laut Jawa dan Sunda Kelapa dan masuk Kali Citarum,yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Pajajaran,akhirnya rombongan beliau singgah di Pelabuhan Karawang.


Menurut buku sejarah masa silam Jawa Barat yang terbitan tahun 1983 disebut,Pura Dalem.mereka masuk Karawang sekitar 1416 M.yang mungkin dimaksud Tangjung Pura,dimana kegiatan Pemerintaahan dibawah kewenangan Jabatan Dalem..Karena rombongan tersebut,sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan,sehingga aparat setempat sangat menghormati dan,memberikan izin untuk mendirikan Mushola ( 1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka.Setelah beberapa waktu berada di pelabuahan Karawang,Syekh Quro menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunya ( sekarang Mesjid Agung Karawang ).dari urainnya mudah dipahami dan mudah diamalkan,ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang.


Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya,Nyi Subang Larang,Syekh Abdul Rohman,Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti ,Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).


Berita kedatangan kembali Syekh Quro,rupanya terdengar oleh Prabu Anggalarang yang pernah melarang penyebaran agama islam di tanah Jawa,sehingga Prabu Anggalarang mengirim utusannya.untuk menutup pesantren Syekh Quro.utusan yang datang itu adalah Putra Mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa. sesampainya di pesantren putra mahkota tersebut hatinya tertambat oleh alunan suara yang merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang,”dalam mengalunkan suara pengajian Al-Qur’an,”


Prabu Pamanah Rasa akhirnya mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut.Atas kehendak yang Maha Kuasa Prabu Pamanah Rasa,menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan merdu suaranya.Lalu,akhirnya Prabu Pamanah Rasa melamar dan ingin mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya.Pinangan tersebut diterima tapi,dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus,yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berwirid.


Selain itu,Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain yaitu,agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja.seterusnya menurut cerita,semua permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa.Atas petunjuk Syekh Quro,Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.


Di tanah suci Mekkah,Prabu Pamanah Rasa disambut oleh seorang kakek penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik.Prabu Pamanah Rasa merasa keget,ketika namanya di ketahui oleh seorang kakek.Dan Kekek itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat.Sang Prabu Pamanah Rasa denga tulus dan ikhlas mengucapkan,Dua Kalimah Syahadat.yang makna pengakuan pada Allah SWT,sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad adalah utusannya.


Semenjak itulah,Prabu Pamanah Rasa masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh,mulai dari itu,Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya.Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Kraton Pajajaran,Untuk melangsungkan pernikahannya denga Nyi Subang Larang waktu ters berjalan maka pada tahun 1422 M,pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro.setelah menikah Prabu Pamanahah Rasa dan dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran dengan gelar Prabu Siliwangi.


Hasil dari pernikahan tersebut mereka dikarunai 3anak yaitu:

1.Raden Walangsungsang ( 1423 Masehi)

2.Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi)

3.Raja Sangara ( 1428 Masehi).


Setelah melewati usia remaja,Raden Walangsunsang bersama adiknya Nyi Mas Rara Santang pergi meninggalkan Pakuan Pajajaran dan mendapat bimbingan dari ulama besar Syekh Nur Jati di Perguruan Islam Gunung Jati Cirebon.


Setelah kakak beradik menunaikan ibadah Haji,maka Raden Walang Sungsang

Menjadi Pangerang Cakra Buana dengan sebutan Mbah Kuwu Sangkan dengan beristerikan Nyi Mas Endang Geulis Putri Pandita Ajar Sakti Danuwarsih.Sedangkan Nyi Mas Rara Santang waktu pergi ke Mekkah diperisteri oleh Sultan Mesir yang bernama Sarif Abdulah (Raja Mesir),sedangkan Raja Sangara menyebarkan agama islam di tatar selatan dengan sebutan Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat), wafat dan dimakamkan di Godog Suci Garut. Nyi Mas Rara Santang setalah menikah dengan raja Mesir,Namanya diganti menjadi Syarifah Mudaim,dari hasil pernikahannya dikaruniai dua orang putra.masing-masing bernama Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.Setelah ayahnya meninggal dunia,jabatan Sultan Mesir diserahkan kepada Syarif Nurullah,sedangkan Syarif Hidayatullah meneruskan menimba ilmu agama islam

dari ulam Mekkah dan Bagdad.


Ia bertekad untuk......bersambung.naraumber 'buku Ikhtiar sejarah singkat Syeh qurotul'ain '